Inovatif dan Kompetitif untuk Kesejahteraan Sosial (Innovative and Competitive for Social Welfare)

ARTIKEL

Dipublikasi pada Friday, 16 May 2014 oleh admin

SEPAK TERJANG PEKERJA SOSIAL DALAM MEMPERJUANGKAN HAK-HAK ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM
Oleh : Mujiastuti, S.Pd
           Sitem Peradilan Pidana Anak (SPPA) telah memasuki paradigma baru dengan diberlakukannya UU No. 11/2012 yang mulai berlaku bulan Agustus tahun 2014. Dibandingkan dengan UU Nomor 3/1997 yang telah dicabut, pemberlakukan UU SPPA baru ini dianggap oleh banyak pihak sebagai suatu langkah maju dalam menjamin pemenuhan hak - hak anak. Lalu apa bedanya ?


Retributive vs Restorative

Berbeda dengan UU sebelumnya, UU No 11/2012 berusaha mengedepankan kepentingan terbaik anak baik anak sebagai pelaku, korban, ataupun anak yang bertindak sebagai saksi. Pendekatan yang digunakan pada UU No 11/2012 tidak lagi menekankan pada penghukuman (retributive) tapi menggunakan pendekatan keadilan restorative (restorative justice). Restorative Justice adalah penyelesaian perkara pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait dan bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, bukan pembalasan (p.1). Pemulihan kembali pada kondisi seperti sedia kala menjadi penekanan dalam UU ini. 

Diversi atau pengalihan proses formal peradilan pidana ke proses non-formal kekeluargaan di luar peradilan pidana menjadi satu alternatif cara yang wajib diupayakan oleh para penegak hukum ataupun pihak-pihak yang berkepentingan lainnya untuk mencapai keadilan restorative tersebut. Cara ini didasari oleh pemikiran dan hasil penelitian yang menyatakan bahwa proses peradilan ataupun penjara dapat mengakibatkan pengalaman traumatis bagi anak dan membawa dampak buruk bagi perkembangan psikologis anak.

Peran Peksos dalam UU SPPA No 11/2012

Dalam konteks UU SPPA No 11/2012, peran pekerja sosial (peksos) ataupun tenaga kesejahteraan sosial (TKS) menjadi sangatlah strategis. Jika pada UU sebelumya peran pekerja sosial sangat kecil, sekarang peran peksos menjadi lebih besar. Peksos/TKS bersama-sama dengan anak, orang tua/wali dan pembimbing kemasyarakatan merupakan pihak yang terlibat dalam proses musyawarah Diversi (pasal 8 (1 dan2)). Laporan sosial yang dibuat oleh peksos/TKS juga menjadi bahan pertimbangan penyidik pada saat proses pemeriksaan (pasal 27 (3)). Selain itu, ketika masalah hukum diselesaikan di luar persidangan, ABH selanjutnya akan menjadi tanggung jawab Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) dimana pekerja sosial menjadi aktor di lembaga tersebut yang akan menangani ABH.

Upaya menghasilkan SDM pendamping ABH yang profesional

Perluasan peran peksos tersebut coba disikapi oleh BBPPKS Regional I Sumatera.  BBPPKS Regional I Sumatera sebagai salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Sosial RI yang mempunyai tugas mendidik dan melatih para pekerja sosial ataupun tenaga kesejahteraan sosial di wilayah regional Sumatera berupaya melakukan terobosan-terobosan dalam rangka menghasilkan SDM pendamping ABH yang profesional.

Bentuk terobosan yang dilakukan antara lain adalah melakukan kunjungan ke beberapa instansi yang terkait dalam penanganan ABH. Kegiatan kunjungan diharapkan menjadi tambahan wawasan bagi widyaiswara ataupun peserta diklat terhadap implementasi UU SPPA No.11/2012 sehingga kedepannya para pekerja sosial yang terdidik dan terlatih dapat mengatasi segala permasalahan yang muncul di lapangan.

Lembaga yang dikunjungi oleh BBPPKS Regional I Sumatera yaitu Pengadilan Negeri Cibinong, Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani, Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Bambu Apus, BPSDM Kemenkumham di Cinere, Lapas anak Tanggerang, Balai Pemasyarakatan Kelas I Jakarta Timur Utara, Direktorat Anak Kementerian Sosial RI dan Pusdiklat Kesos Kementerian Sosial RI. Peran pekerja sosial terlihat secara nyata di masing-masing lembaga tersebut.

Peran Peksos di Pengadilan Negeri Cibinong

Menurut Ketua Pengadilan Negeri Cibinong, peran peksos di Pengadilan Negeri sesungguhnya dimulai dari tahap penyidikan, penuntutan sampai ke tahap pengadilan. Pekerja sosial membuat laporan sosial (lapsos) yang sangat berperan penting dalam pengambilan keputusan terhadap ABH di tiap-tiap tahapan tersebut. Melalui laporan sosial, baik penyidik, penuntut maupun hakim dapat mengetahui apakah anak mengalami trauma atau tidak sehingga dapat menentukan perlakuan yang akan diberikan kepada anak.

Laporan sosial juga menjadi rekomendasi terkait latar belakang sosial si pelaku. Informasi di dalam laporan sosial dapat menjadi pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan terhadap perkara anak. Apakah anak pelaku diserahkan kembali kepada orang tua atau diikutsertakan ke dalam program pendidikan dan pembinaan di LPKS (Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial).

Pentingnya peran laporan sosial tersebut membuat kehadirannya sangat diharapkan mulai dari tahap penyidikan, penuntutan dan tahan pengadilan. Pada saat laporan sosial sudah tersedia maka pihak pengadilan akan mengundang pekerja sosial untuk mendampingi anak di proses pengadilan.

Dalam tahap pengadilan, pekerja sosial membantu memperlancar tugas hakim ketika hakim mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anak (terutama anak korban). Pada saat pertanyaan hakim sulit dicerna oleh anak maka pekerja sosial mencoba menterjemahkannya dengan bahasa yang membuat anak senyaman mungkin untuk menjawabnya. Peksos juga diharapkan mengerti akan psikologi perkembangan anak sehingga ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami oleh anak ketika proses pengadilan tidak akan terjadi.  

            Dalam melakukan peranannya, pekerja sosial saling bekerjasama dengan Pembimbing Kemasyarakatan yang berasal dari Balai Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Ham atau yang lebih dikenal dengan PK Bapas. Walaupun dalam berbagai forum diskusi dinyatakan bahwa anak saksi dan korban menjadi ranah peksos/TKS dan anak pelaku menjadi ranah PK Bapas akan tetapi pada kenyataannya pengadilan akan menjadikan penelitian kemasyarakatan (litmas) yang dibuat oleh PK Bapas dan Lapsos yang dibuat oleh peksos ketika mengambil keputusan terhadap anak yang melakukan tindak pidana.

Akan tetapi, pentingnya peran peksos tersebut di dalam pendampingan anak yang berhadapan dengan hukum tidak dibarengi dengan tersedianya jumlah pekerja sosial yang memadai dan siap untuk mendampingi ABH di lapangan. Pengadilan Negeri ataupun penyidik kerap merasa kesulitan ketika memanggil pekerja sosial dan tidak semua Dinas Sosial memiliki daftar pekerja sosial pendamping ABH.  

Harapannya kedepan, masing-masing pemerintah daerah dapat melakukan koordinasi ataupun membentuk wadah yang dapat menyatukan aparat penegak hukum ataupun pihak-pihak terkait sehingga kesemua pihak dapat berkoordinasi dan menyelesaikan masalah ABH dengan baik sesuai dengan amanah UU SPPA no.11/2012. Tidak hanya itu, kesemua pemerintah daerah diharapkan dapat menginvetarisir pekerja sosial yang siap untuk mendampingi ABH dan juga panti-panti sosial yang mempunyai program latihan kerja. Hal ini sangat memudahkan para aparat penegak hukum dalam menetapkan tindak lanjut atas anak yang berperkara.

Peran Pekerja Sosial di PSMP Handayani

            PSMP Handayani merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah Ditjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI yang memiliki tugas pokok melayani dan merehabilitasi anak nakal dan anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Pelayanan yang diberikan di PSMP Handayani tentu saja berbeda dengan proses pelayanan di dalam penjara yang menurut beberapa hasil penelitian cenderung membawa anak pada kondisi terisolasi dan terputus hubungannya dengan dunia luar dan berdampak buruk pada kondisi psikologis anak. Pelayanan yang diberikan di PSMP Handayani lebih bersifat preventif, kuratif, rehabilitatif, promotif dalam bentuk bimbingan fisik, mental, sosial dan pelatihan keterampilan, resosialisasi dan bimbingan lanjut bagi anak nakal agar mampu mandiri dan berperan aktif dalam kehidupan masyarakat.

Pekerja sosial yang berada di dalam PSMP Handayani memainkan beberapa peranan seperti melakukan proses mediasi, sebagai fasilitator, advokasi, konselor terapis dan juga sebagai broker. Salah satu contoh peran mediasi yang dilakukan oleh pekerja sosial di PSMP Handayani adalah peran penyelesaian kasus baik di tahap penyidikan, penuntutan ataupun sudah memasuki proses peradilan. Pada saat kunjungan sedang berlangsung salah seorang pekerja sosial di PSMP Handayani sedang melakukan proses mediasi di polsek Kampung Makasar Jakarta Timur. Kasus yang sedang ditangani melibatkan anak sebagai pelaku (RZ, 15th) yang melakukan pencurian motor berjumlah 3 (tiga) buah.

            Sebelum musyawarah diversi di tingkat kepolisian, pekerja sosial melakukan home visit ke keluarga pelaku untuk mendapatkan data tentang anak pelaku. Selain itu pekerja sosial juga melakukan pendekatan awal kepada para korban. Di dalam proses ini pekerja sosial mencoba meyakinkan para korban bahwa penjara bukanlah tempat yang baik untuk anak. Peksos juga menyampaikan kepada korban agar mau menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan dan tidak meneruskannya kepada tahap penuntutan dan juga tahap pengadilan. 

            Setelah melakukan pendekatan awal dan berhasil meyakinkan pihak korban, peksos mengikuti musyawarah diversi di  kepolisian. Proses diversi di tingkat penyidik ini dipimpin oleh pihak kepolisian dan diikuti oleh PK Bapas, Peksos, korban dan keluarga pelaku. Setelah proses diversi berhasil, para korban, penyidik dan PK Bapas menandatangani hasil kesepatan diversi yang akan disampaikan ke pengadilan dan diperoleh penetapannya oleh pengadilan. Pada tahap ini pekerja sosial juga diminta menyampaikan laporan sosial dari anak pelaku.

            Pekerjaan seorang pekerja sosial ternyata tidak berhenti sampai disitu saja. Setelah musyawarah diversi tercapai dan anak diputuskan untuk dimasukkan kedalam LPKS untuk menjalani proses rehabilitasi maka pekerja sosial berkewajiban untuk melakukan pendampingan terhadap anak tersebut. Berbagai macam pelayanan diberikan kepada anak baik itu konseling, pemberian keterampilan, ataupun bimbingan sosial sampai anak benar-benar siap untuk menjalankan fungsi sosialnya di dalam masyarakat seperti sedia kala. Seorang pekerja sosial juga memastikan keluarga ataupun masyarakat siap untuk menerima anak ketika si anak yang bersangkutan diputuskan untuk dikembalikan kepada keluarga.     

Apabila melihat pengalaman di kedua lembaga yang menangani ABH tersebut, tidaklah berlebihan jika pekerja sosial dianggap sebagai “manusia multi-talend”. Kemampuan berkomunikasi dengan baik, pemahaman melakukan pendampingan di tiap tingkatan, dan juga kemampuan bekerjasama dengan pihak-pihak yang berkepentingan menjadi kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendamping ABH. Semua kompetensi tersebut harus dikuasai tanpa terkecuali jika tujuan restorative justice ingin tercapai.  

Akan tetapi, semua kerja keras peksos tersebut akan terbayarkan ketika melihat senyum-senyum Anak Yang Berhadapan dengan Hukum kembali mengembang dan melihat mereka dapat kembali berkarya demi masa depan bangsa. Tentu saja, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi suatu bangsa selain bisa mempersiapkan generasi yang mampu mengelola bangsa dan negara pada zamannya. –mj-

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Catatan: OK

Posted in BBPPKS Padang

Associated Topics

BBPPKS PadangPendidikan dan Pelatihan

"ARTIKEL" | Login/Daftar | 0 komentar
Isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengirimnya.

Anda tidak dibolehkan mengirim komentar, silakan daftar di sini