Inovatif dan Kompetitif untuk Kesejahteraan Sosial (Innovative and Competitive for Social Welfare)

Diklat: Aspek Pendampingan Lebih Menentukan Tingkat Keberhasilan dalam PKH

Dipublikasi pada Thursday, 22 September 2016 oleh hendri

Oleh : Toton Witono

Padang, 20 September 2016.

Kemiskinan masih menjadi masalah utama di Indonesia. Angkanya memang cenderung menurun, tetapi jumlahnya masih cukup besar. BPS mengestimasi masih terdapat 30-an juta jumlah penduduk miskin Indonesia. Bahkan menurut indikator kemiskinan Bank Dunia, yakni pendapatan 2$ per-hari, jumlahnya bisa di atas 120 juta (atau sekitar 60% dari total jumlah penduduk). Begitu banyak program penanganan kemiskinan di negara ini, namun dinilai masih belum cukup efektif, sehingga masih dibutuhkan strategi perlindungan sosial yang lebih mujarab. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pendidikan, Penelitian, dan Penyuluhan Sosial (Badiklit-Pensos), Kementerian Sosial RI., Edi Suharto, M.Sc., Ph.D., di hadapan 123 pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di aula Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional I Sumatera pada Selasa, 20 September 2016.



Sebagaimana dilaporkan Kepala BBPPKS Regional I Sumatera, Dr. Abdul Hayat, M.Si., kehadiran 123 pendamping PKH tersebut di Padang adalah dalam rangka pembukaan Diklat Pendamping PKH Putaran VI. Mereka berasal dari sebagian wilayah kerja BBPPKS Padang, yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Jambi. Diklat empat kelas (atau angkatan) ini akan diselenggarakan selama 10 hari, yakni tanggal 19 hingga 28 September 2016.

Terkait penanganan kemiskinan di Indonesia, lebih jauh Kepala Badiklit-Pensos yang baru dilantik awal Agustus lalu itu menjelaskan bahwa salah satu strategi pemerintah yang tampaknya dapat diandalkan saat ini adalah PKH. PKH merupakan program pemberian bantuan tunai bersyarat (conditional cash transfer atau disingkat CCT). Syaratnya adalah pendidikan dan kesehatan. Alasannya, orang miskin tidak sekadar karena ketiadaan uang, tetapi bisa karena hal-hal lain. Misalnya tidak bisa menggunakan air bersih, tidak mampu berobat ke Puskesmas, tidak dapat mengakses pendidikan, dan sebagainya.

Dalam acara pembukaan tersebut, Doktor lulusan Massey University, New Zealand ini menyangsikan bahwa tidaklah cukup dengan hanya memberikan bantuan tunai bagi keluarga miskin, lantas kemudian dapat langsung mengakses kesehatan dan memanfaatkan fasilitas pendidikan bagi anak-anak mereka. Pada titik ini dibutuhkan adanya faktor pendorong atau pengungkit (leverage) yang kuat agar mereka bisa “move on” dari kemiskinan.

Manfaat PKH tidak terletak pada jumlah bantuannya. Tentu saja bantuan yang kecil tidak serta-merta dapat melepaskan mereka dari simpul kemiskinan. Berkaca dari pengalaman Brazil (dengan Bolsa Familia-nya) dan sejumlah negara lain seperti Meksiko, Tukri, dan Filipina, hal paling krusial dari program CCT ini terletak pada pendampingan bagi peserta PKH. Edi Suharto, Ph.D. menegaskan, pada titik inilah keberadaan pendamping PKH menjadi penting. Awalnya ide memunculkan pendamping PKH sempat diperdebatkan karena berbagai alasan. Mulai dari soal pembiayaan ekstra, susahnya mengatur pendamping yang begitu banyak, hingga sulitnya mengontrol mereka. Namun, ternyata pendamping sungguh menjadi ujung-tombak dan eksistensinya dapat menjadi faktor penentu keberhasilan PKH. Terbukti saat ini sudah ada sekitar 18 ribu jumlah pendamping di seluruh Indonesia. Apalagi PKH telah menjadi program unggulan untuk mengatasi kemiskinan di negara berpenduduk hampir 250 juta. Bahkan PKH saat ini mengambil porsi sekitar ¾ dari anggaran Kementerian Sosial secara keseluruhan.

Menimbang betapa pentingnya keberadaan pendamping bagi keberhasilan PKH, Diklat untuk pendamping PKH sangat strategis dalam kerangka mencetak tenaga pendamping yang kompeten dan profesional. Dr. Abdul Hayat, M.Si. menjelaskan bahwa diklat tersebut bertujuan mengembangkan tiga ranah pokok, yaitu pengetahuan atau kognitif (knowledge), psikomotorik (skill), dan sikap (attitude). Ketiga elemen penting ini tercakup dalam materi Diklat Pendamping PKH, seperti kebijakan dan pengetahuan PKH, pengembangan komitmen dan motivasi, pengembangan integritas, etika dan teknik pendampingan, alur dan mekanisme, sesi penguatan keluarga (family development session atau disingkat FDS), dan praktik belajar lapangan (PBL).

Senada dengan penjelasan Kepala BBPPKS Padang, ketiga indikator tersebut juga dikupas Kepala Badiklit-Pensos. Menurutnya, di samping penguasaan pengetahuan PKH, pendamping juga harus memiliki sejumlah skill meliputi manajemen data, komunikasi, advokasi, dan koordinasi. Sebagai contoh penerapan, penerima manfaat (benefeciaries) PKH kebanyakan berlatar belakang pendidikan yang kurang, sehingga soal komunikasi bisa menjadi kendala serius apabila pendamping tidak punya kecakapan bagaimana membahasakan istilah atau alur mekanisme yang dapat dipahami oleh mereka. Terkait aspek sikap, beliau menjelaskan pentingnya kejujuran, rendah hati (low profile), tidak arogan, terbuka, dan bersahabat bagi pendamping PKH.

Di bagian akhir sambutannya, Kepala Badiklit-Pensos lebih menekankan elemen sikap. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pesan bahwa “Pendamping (PKH) harus dapat bekerja profesional, bertanggung jawab, memiliki integritas, termasuk motivasi dan inisitiaf yang tinggi.” Pesan lain yang disampaikan adalah bahwa pendamping harus bekerja purna waktu yang tidak bisa dirangkap dengan pendamping lain. Menjadi pendamping PKH bukanlah kerja sampingan. Dengan gayanya, dosen yang mengajar di sejumlah perguruan tinggi ini berkelakar, “PKH menganut azas monogami, bukan poligami. ... Jadi harus jujur dari sekarang,” yang kemudian disambut tawa seluruh peserta dan hadirin.

Beliau menambahkan, pendamping PKH harus mampu menjadi contoh (role model), bagaimana berpakaian yang pantas, dan bertutur kata serta bertingkah laku yang sopan. Selain itu, pendamping tidak boleh menggiring PKH untuk kepentingan politik dan menjadi sumber informasi sekaligus resolusi konflik yang mungkin terjadi di lapangan, bukan malah menjadi sumber masalah. Di lapangan bisa terjadi hal-hal tidak terduga, oleh karena itu pendamping harus bersikap tenang. Menyadari kehadiran di tengah pendamping dan hadirin dari Sumatera yang gemar berpantun, Kepala Badiklit-Pensos ini pun tak lupa menyampaikan seuntai pantun singkat. “Mak Icih pake kebaya. Terima kasih ya....”

Posted in BBPPKS Padang

Associated Topics

BBPPKS Padang

"Aspek Pendampingan Lebih Menentukan Tingkat Keberhasilan dalam PKH" | Login/Daftar | 0 komentar
Isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengirimnya.

Anda tidak dibolehkan mengirim komentar, silakan daftar di sini